» Cuplikan Buku: Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya

Respons: 0 komentar
Pada tahun 1920, Lewis Terman memulai sebuah studi besar-besaran yang memakan waktu puluhan tahun. Dalam studi yang dinamakan “Studi Genetik Genius”, Terman menyeleksi sekelompok anak-anak dari negara bagian California yang dianggap genius dan mengikuti jalan hidup mereka sampai dewasa. Seribu lima ratus anak akhirnya terpilih. Terman percaya, dari seribu lima ratus anak ajaib yang terpilih tersebut[1], sebagian akan menjadi ahli-ahli kelas dunia setelah dewasa. Keyakinan Terman tentu saja beralasan. Lima persen dari anak-anak pilihan tersebut, yang berarti 75 orang anak, memiliki IQ setinggi 180 (sebagai perbandingan, IQ Mozart ditaksir hanya sekitar 135). Bila tidak ada seorang pun dari mereka yang mampu meraih Hadiah Nobel, siapa lagi yang mampu?

Sayang seribu sayang, ketika mulai beranjak dewasa, keistimewaan anak-anak pilihan Terman tersebut semakin memudar. Mereka memang memperoleh gaji yang lebih besar dan kesehatan lebih baik dibanding rata-rata penduduk Amerika, tetapi hanya sedikit sekali yang tumbuh menjadi genius atau ahli kelas dunia ketika dewasa. Tidak ada yang memenangkan Hadiah Nobel. Secara keseluruhan, studi tersebut membuktikan bahwa gagasan tentang hubungan antara kecerdasan umum, nilai g, atau IQ dengan prestasi besar ketika dewasa sama sekali tidak berdasar.

Pada tahun 1956, setahun setelah Terman wafat, Hadiah Nobel Fisika dianugerahkan kepada William Shockley. Shockley tentu saja terkenal sebagai salah satu penemu transistor dan berperan besar dalam pengembangan Lembah Silikon di California. Apa hubungan Shockley dengan Terman? Ternyata, Shockley gagal masuk ke dalam kelompok pilihan Terman. Dia dianggap kurang layak. Dua belas tahun kemudian, Luis Alvarez, yang berhasil memenangkan Hadiah Nobel Fisika atas karyanya di bidang partikel elementer, juga pernah ditolak masuk ke kelompok pilihan Terman tersebut. Isaac Stern dan Yehudi Menuhin yang juga ditolak masuk ke dalam kelompok elit tersebut tumbuh menjadi musisi kelas dunia, sementara tidak seorang pun dari anak-anak ajaib Terman yang berhasil mencapai status tersebut.

Sebelum wafat, Terman akhirnya terpaksa menarik kesimpulan bahwa nilai IQ tidak terlalu berpengaruh terhadap kesuksesan seseorang setelah melewati angka tertentu. Studi lanjutan yang dilakukan oleh Jacob Getzels dan Philip Jackson pada tahun 1962 akhirnya berhasil menentukan angka tersebut: 120. Setelah nilai 120, peningkatan nilai IQ tidak memiliki pengaruh lagi terhadap keberhasilan seseorang dalam hidupnya. Nilai 120 bukanlah nilai yang terlalu tinggi. Siswa-siswa sekolah yang pernah meraih ranking 10 besar rata-rata bisa mencapai nilai IQ tersebut.

Anda yang telah memiliki nilai IQ minimal 120 tentu sudah bisa bernapas lega. IQ Anda sudah sejajar dengan beberapa peraih Hadiah Nobel, seperti Richard Feynman, yang ketika duduk di sekolah menengah hanya memiliki IQ sekitar 120-an, dan kemudian berhasil meraih Hadiah Nobel Fisika dan dianggap sebagai salah satu ahli fisika terbesar semenjak Einstein. Jika Feynman bisa mencapai prestasi tersebut, pintu tentu masih terbuka buat Anda-Anda yang IQ-nya berada di kisaran 120.

Tetapi bagaimana bila nilai IQ Anda ternyata masih di bawah itu? Meski yang dibutuhkan adalah nilai 120, bukankah itu tetap membuktikan gen cukup menentukan keberhasilan seseorang? Toh, siapa juga tahu nilai IQ diwariskan melalui genetik.

Mari kita periksa apakah asumsi tersebut benar.

Pertama-tama, nilai minimal IQ 120 sebagai penentu keberhasilan bukan merupakan sebuah harga mati. Kita ambil contoh saja di bidang yang selama ini diasosiasikan dengan kemampuan mental yang tinggi: catur. Anders Ericsson dalam studinya terhadap para grandmaster catur menemukan adanya master catur dengan IQ di kisaran angka 90-an.

Selain itu, ketika nilai IQ 120 tersebut ditentukan, kita belum memasukkan unsur kecerdasan khusus. Seperti yang akan kita lihat nanti, kecerdasan khusus jauh lebih penting dari kecerdasan umum (seperti IQ) dalam hal pencapaian keahlian dan kegeniusan ketika dewasa.

Sebelum Anda bingung, kita perlu membahas sejenak apa yang dimaksud dengan kata-kata: genius, kecerdasan umum, dan kecerdasan khusus[2].

Mereka yang dianggap genius adalah mereka yang telah mencapai keahlian kelas dunia di sebuah bidang, dan pencapaian tersebut harus melalui standar internasional dan dilakukan secara konsisten.

Istilah kecerdasan umum mengacu pada jenis kecerdasan yang bisa dipergunakan di berbagai macam bidang. Kecerdasan verbal dan logika-analitika yang diukur melalui IQ adalah salah satu contoh kecerdasan umum yang paling terkenal. Kecerdasan umum jenis lain mencakup kecerdasan musikal (membedakan dan memainkan nada dengan baik), kecerdasan spasial (pengenalan ruang), atau kecerdasan kinestetik (kelincahan gerak). Mereka yang memiliki kecerdasan spasial, misalnya, dianggap bisa mempergunakan kecerdasannya di berbagai bidang seperti teknik, arsitektur, desain, atau melukis.

Sedangkan istilah kecerdasan khusus dipergunakan untuk kecerdasan yang muncul karena pengetahuan yang mendalam di bidang tertentu. Mereka yang ahli bermain catur disebut memiliki kecerdasan khusus di bidang catur. Mereka yang piawai bermain biola memiliki kecerdasan khusus di bidang biola. Kecerdasan khusus tersebut, seperti yang akan kita lihat nantinya, adalah inti dari kegeniusan. Sayangnya, kecerdasan jenis ini sulit ditransfer ke bidang lain. Mereka yang piawai bermain biola, tidak bisa serta merta menjadi genius di permainan piano tanpa melalui proses yang sama panjangnya.

Dengan mengasumsikan kegeniusan adalah hasil dari kecerdasan khusus, angka kecerdasan umum, seperti IQ, jelas bukanlah segalanya. Charles Darwin dan Leo Tolstoy pernah dianggap anak biasa. Ben Hogan, salah satu pegolf legendaris, dianggap tidak memiliki gerakan yang terkoordinasi ketika masih anak-anak. Demikian juga dengan Charlie Chaplin, Elvis Presley, Marcel Proust, Jackson Pollock – semuanya tidak menunjukkan bakat di bidangnya ketika mereka menginjak usia dewasa. Seperti yang akan kita bahas nantinya, bukan kecerdasan umum yang menjelaskan kegeniusan mereka kelak, tetapi kecerdasan khusus. Dan kecerdasan khusus – yang merupakan topik utama dari buku ini – adalah sesuatu yang bisa Anda peroleh melalui latihan dan pembelajaran yang benar, yang didukung oleh motivasi yang tinggi.

Selain itu, jika Anda masih tetap percaya kecerdasan umum memiliki peranan dalam pencapaian kegeniusan, sejauh ini telah terkumpul banyak bukti-bukti meyakinkan bahwa angka IQ atau kecerdasan umum tidak semata-mata diwariskan secara genetik, melainkan dipengaruhi juga oleh lingkungan dan pendidikan. Kecerdasan umum, seperti kecerdasan khusus, ternyata bisa juga berubah dengan upaya dan perubahan lingkungan sosial ekonomi.

Penelitian-penelitian terbaru menunjukkan orang tua bisa meningkatkan IQ anak-anaknya dengan sering membacakan cerita dan berbicara dengan anak, memberikan dorongan positif, percaya bahwa anak-anak Anda bisa mencapai prestasi tinggi, mengajarkan anak-anak Anda untuk menerima kegagalan dan belajar dari sana, dan mengembangkan growth mindset (akan dibahas di Bab 3). Sebagian dari kecerdasan anak-anak memang didapatkan dari orang tua mereka, tetapi apa yang mereka dapatkan adalah kombinasi dari gen dan pengaruh lingkungan yang diberikan oleh orang tua mereka.

Kecerdasan umum, termasuk IQ, ternyata bukanlah harga mati. Kecerdasan umum juga bukanlah syarat utama menjadi genius. Tetapi, bila Anda masih tetap mendewa-dewakan kecerdasan umum dan IQ, Anda mungkin bertanya-tanya: Apakah perubahan IQ atau kecerdasan umum masih mungkin terjadi, terutama bagi orang dewasa? Semoga keraguan Anda bisa dijawab oleh para supir taksi di kota London...

Data Buku:
  • Ukuran : 13.5 x 20 cm
  • Tebal : 384 halaman
  • Terbit : Oktober 2011
  • Cover : Softcover
  • ISBN : 978-979-22-7431-8
  • Harga : Rp. 70.000,-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar. Komentar yang mengandung spam akan terhapus secara otomatis. Anda juga bisa menyisipkan kode seperti biasa pada komentar anda.

Copyright © VendiardyAG™

Best View On : Mozzila FirefoxDesigned By: VendiardyAG