Manusia Setengah Salmon, Raditya Dika (Review)
Jadi gini. Kemarin, 24 Desember
2011 adalah hari dimana buku baru Raditya Dika, Manusia Setengah Salmon
(MSS) terbit. Dan aku, seperti biasa, saat buku Radith terbit, nggak
pernah ketinggalan untuk ikut berburu. Ya, tepat jam setengah 11 aku
langsung ngacir ke Gramedia Amplaz, sendirian, berharap langsung dapet
bukunya. Dan apa yang terjadi?
Hal-hal menyebalkan yang terjadi
di hari itu adalah, saat perjalanan sebelum dan sesudah beli buku itu,
aku sempat ketemu sama 2 orang teman dan mereka nanya hal yang sama
persis. "hey, sendirian aja nih? ah masa sendirian?" "Hey apa salahnya
jalan SENDIRIAN?" *gondok*
Tanpa perlu susah payah, ternyata stok
MSS di Gramedia Amplaz banyak banget. Kalo kata komputernya Gramedia
sih stoknya masih 400. Dan.. yeah, dapat MSS di kesempatan pertama! klik readmore!
Kalo kamu
sempat baca buku Radith yang sebelumnya, Marmut Merah Jambu (MMJ) kamu
pasti tau perbedaan antara MMJ dan MSS. Kalo di MMJ lebih banyak tentang
"jatuh cinta", di MSS terkesan tentang kebalikannya, "patah hati" dan
"kepindahan". Karena esensi hidup kita sebenarnya adalah "pindah". Mulai
dari kecil, kita pindah dari rahim ibu ke dunia, pindah sekolah, pindah
pekerjaan, lalu pindah alam. Mati.
Di
buku ini lebih banyak ngakaknya sebenernya. Tapi ada juga beberapa bab
yang ngebuat galau, membuat memori kita terbang ke awang2 (?). Beberapa
bab tentang percintaan kayak Sepotong Hati di Dalam Kardus Coklat
(tentang pindah hati dan pindah rumah), Tarian Musim Kawin (tentang
gimana kita bisa PDKT lewat twitter), sama Mencari Rumah Sempurna cukup
buat orang yang baca bershower malam2 (saking galaunya).
"Mungkin
itu masalahnya, pikir gue. Seperti rumah ini yang terlalu sempit buat
kami, gue juga menjadi terlalu sempit buat dia. Dan, ketika sesuatu
sudah mulai sempit dan tidak nyaman, saat itulah seseorang harus pindah
ke tempat yang (dirasa) cocok untuk dirinya." (Sepotong Hati di Dalam
Kardus Coklat, halaman 29)
*paragraf favoritku di buku ini.
Ada
juga beberapa bab yang bikin nggak berenti ngakak kayak "Ledakkan
Paling Merdu" (tata cara senam kentut yang benar), "Bakar Saja Keteknya"
(sopir baru yang baunya naujubilah), "Kasih Ibu Sepanjang Belanda"
(cerita ketika Radith dapat beasiswa di Belanda dan ketemu sama orang
yang namanya 'Perek'), "Pesan Moral dari Sepiring Makanan" (di Venice,
kesasar gara2 GoogleMaps), dan masih banyak lagi yang sumpah bikin
ngakak tapi nggak lepas dari pesan moral. Juga ada beberapa cerita fiksi
"Interview with The Hantus", yang nyeritain kehidupan hantu2 di alam
sana~
Kalau
MMJ ditutup sama "Marmut Merah Jambu" yang ceritanya full tentang
percintaan, MSS ditutup dengan "Manusia Setengah Salmon", yang ceritanya
tentang "perpindahan-perpindahan" yang dialami Radith.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berkomentar. Komentar yang mengandung spam akan terhapus secara otomatis. Anda juga bisa menyisipkan kode seperti biasa pada komentar anda.