» Cuplikan Novel : Ziarah

Respons: 0 komentar
 Apakah hidup? Bertanya opseter, meneruskan renungannya. Pelan-pelassn dia menyusuri tembok-tembok pekuburan. Hari telah larut malam. Bahkan malam hampir habis. Dia tinggal menantikan pijar fajar, yang bakal menjadi alasan baginya nanti untuk segera masuk ke dalam rumah dinasnya.

Apakah hidup? Jawab yang dipetiknya malam kemarin dari burung pungguk yang memanggil-manggil kepada bulan sabit, tak membuat dia puas. Jawab itu, yang baginya kurang lebih berbunyi: kehidupan adalah suasana, adalah iklim, dari maut -- tak sebegitu meyakinkannya sendiri, betapapun besar pengaruh perkataan "iklim" itu dalam seluruh filsafat dan sastra modern sekarang ini. Lagi pula, ada sesuatu pada jawab itu yang terasa (tjemplang) baginya. (hlm. 62)

Siapakah dia? Hal apa yang membuat dia menyisipkan dirinya dalam episode kehidupan sang opseter?
Ah. opseter kita tak tahu. orang itu bisa siapa saja, punya peranan apa saja. Mungkin dia reserse, mungkin manusia halus, mungkin petualang, mungkin pengarang yang lagi iseng atau menyaru-nyaru entah sebagai dan untuk apa saja. Sebegitu banyak kemungkinan! dan apakah dia membawa tanda seru atau justru tanda tanya dalam episode hidupnya yang kini. Apakah dia membawa koma, titik koma, atau titik, opseter kita benar-benar tak tahu. Manusia adalah sebakul tanda tanya dan lainnya sekaligus, dan kita bertemu dengannya pada setiap momen yang dikehendaki kehidupan. Kenalkah kita dengan yang berpapasan dengan kita di jembatan sana tadi? Siapa tahu, dalam sakunyalah justru terletak kunci kehidupan kita, yang kini maupun yang akan datang. (hlm. 74)

Bunuh diri --- lebih-lebih dia tak dapat melakukannya! Kepegawainan yang sudah berpuluh-puluh tahun itu telah membuat dari dirinya, tanpa semaunya sendiri, manusia susila. Sedang bunuh diri adalah tindak yang tak susila. Negara bahkan menganggap bunuh diri sebagai juga pembunuhan biasa. Bedanya cuma, si pembunuh tak dapat didakwa dan dihukum lagi. Dia telah mendakwa sekaligus menghukum dirinya sendiri. Dia adalah si pembunuh sekaligus dan yang terbunuh. matinya adalah kematian yang rangkap dua. Yang pertama, kematian sang korban yang dibunuh. Yang kedua, kematian sang terdakwa yang dihukum sendiri oleh sang korban.

Pada tiap bunuh diri terdapat dua kali perkataan "korban" dan dua kali perkataan "terdakwa". Si korban sekaligus membalas pembunuhan atas dirinya pada saat itu juga, dimana dia jadinya bertindak sebagai pembunuh. Tegasnya, sebagai sang terdakwa baru. Sedang si terdakwa sekaligus mengalami pembunuhan atas dirinya pada saat itu juga, dimana dia jadinya adalah sang korban. Tegasnya, sebagai sang korban baru.

Jadi, bunuh diri tak memebawa penyelesaian. Dia adalah persis layar penutup babak terakhir sandiwara. TAMAT, tapi hanya untuk lakonnya saja. Sesudah layar turun, tiap tokoh meneruskan kisahnya sendiri-sendiri, dalam sekian lakon yang tidak, atau masih bakal, dikisahkan. (hlm. 100)

dahsyat. wajib baca. novel yang sarat hikmah kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar. Komentar yang mengandung spam akan terhapus secara otomatis. Anda juga bisa menyisipkan kode seperti biasa pada komentar anda.

Copyright © VendiardyAG™

Best View On : Mozzila FirefoxDesigned By: VendiardyAG