Penulis : Gol A Gong dan Agus M Irkham
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal : xvi + 519 halaman
Terbit : I, Februari 2012
Persoalan
literasi atau keberaksaraan bukanlah minimnya jumlah warga negara yang
melek huruf. Namun bagaimana mereka sapat melibatkan “aksara” secara aktif, untuk memperkaya wawasan, menambah pengetahuan, hingga membuat kualitas hidupnya lebih baik.
Sayangnya,
dari berbagai temuan, tingkat literasi masyarakat memang masih rendah.
Apalagi jika hal tersebut dikaitkan ataupun disandingkan dengan tingkat
kemiskinan. Artinya, tingkat melek huruf yang terus meningkat di
Indonesia, tidak membawa perubahan pada angka kemiskinan.
Inilah
salah satu kondisi yang mendorong berdirinya berbagai gerakan literasi
di masyarakat. Gerakan yang muncul tidak hanya merangsang masyarakat
untuk mendapatkan kesempatan mengakses bacaan yang bermanfaat serta
kaya, melainkan juga dapat memanfaatkan bacaan tersebut untuk
mengembangkan dirinya. Namun niat ini tidak selalu berhasil.
Buku
ini mencoba memberikan gambaran sejumlah situasi yang membuat gerakan
literasi terhambat. Salah satunya ialah kesadaran para birokrat,
misalnya saja pemerintah kota, terhadap arti penting perpustakaan.
Ketidakpahaman pemerintah kota terhadap manfaat jangka panjang sebuah
perpustkaan, membuat mereka lebih senang memberikan ijin pembukaan mal,
ketimbang menambah koleksi judul buku di perpustakaan. Bandingkan saja,
berapa jauh perbedaan tingkat pertumbuhan mal ataupun pusat belanja di
Jakarta, dengan pendirian perpustakaan daerah.
Di
sini, perpustakaan dearah yang memang tidak memberikan dampak langsung
terhadap pendapatan derah, dianggap tidak penting. Mereka menganggap
perpustakaan hanya akan menambah pengeluaran, tanpa menghasilkan
pendapatan. Akhirnya, sebuah kota hanya menjadi pusat belanja ketimbang
pusat edukasi.
Apalagi
sebuah perpustakaan yang ideal tidak hanya harus menambah koleksi buku
setiap saat, namun juga harus memiliki dana untuk menambah fasilitas
yang memudahkan masyarat memperoleh informasi. Tidak mengherankan
apabila kondisi perpustaakan daerah acap kali memprihatinkan, sehingga
fungsi idealnya tidak menemui kenyataan.
Kondisi
lainnya adalah, orang-orang yang bekerja di perpustakaan tidak memiliki
pemahaman yang baik mengenai perpustakaan. Ironisnya, ada pegawai
perpustakaan yang tidak gemar membaca dan tidak menyukai buku.
Akibatnya,
pengelolaan perpustakan tidak maksimal. Jangankan mencari cara agar
perpustkaan dapat diakses atau didatangi oleh lebih banyak orang, untuk
membenahi katalogisasi saja masih amburadul.
Namun,
di tengah situasi literasi yang serba memprihatinkan tersebut, masih
ada komunitas yang peduli melakukan usaha untuk membenahinya. Dengan
caranya sendiri mereka berusaha meluaskan gerakan literasi di daerah,
salah satunya dengan mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM).
Mereka
juga melakukan sejumlah kegiatan literasi. Di Banten misalnya digagas
gerakan Banten Membaca. Kemudian di Cipanas, Lebak, diusung gerakan
Cipanas Iqra. Di Yogyakarta misalnya diciptakan gerakan Yogya Membaca,
dan di Surabaya, Jawa Timur, dibuat gerakan Surabaya Membaca.
Gerakan-gerakan
semacam inilah yang seharusnya mendapat dukungan dari siapa saja yang
mengaku peduli dengan dunia literasi. Sebab rasanya sudah sulit
mengharapkan dukungan dari otoritas terkait.
Masih
berkait dengan literasi, buku ini juga membahas sejumlah hal yang
berkaitan dengan bisnis buku di tanah air. Masalah pengelolaan toko
buku, penerbitan, hingga hal-hal yang berkaitan dengan usaha pemasaran
buku, adalah topik-topik yang dibahas di dalamnya.
Masalah
literasi, dari usaha menyebarkan gairah membaca di masyarakat, hingga
upaya menanamkan budaya menulis, dibahas dari berbagai sisi dalam buku
ini. Oleh karena itu, tidak berlebihan rasanya jika buku ini diklaim
sebagai usaha untuk membongkar karut marut dunia literasi.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berkomentar. Komentar yang mengandung spam akan terhapus secara otomatis. Anda juga bisa menyisipkan kode seperti biasa pada komentar anda.