Judul: Nyanyian Angin di Celah Gemunung HimalayaPenulis: Sieling Go
Penerbit: Grasindo, 2010
Tebal: 404 Halaman
Perjalanan
menjangkau tempat-tempat terpencil dan nyaris tidak dapat ditinggali
manusia, selalu menyisakan pengalaman tidak terlupakan. Bukan hanya
karena menyaksikan pemandangan alam yang menakjubkan, melainkan juga
karena pengalaman kemanusiaan dan spiritual.
Itu
juga yang dialami oleh Sieling Go, 51 tahun yang melakukan perjalanan
seorang diri menuju Himalaya, Nepal, pada tahun 2007. Dia adalah orang
Indonesia. Kemauannya yang keras membawanya berada selama lebih dari dua
puluh hari melalui daerah bersuhu ekstrim untuk mencapai puncak gunung
itu.
Selama
melakukan perjalanan menuju puncak Himalaya, Seiling membuat sejumlah
catatan. Hal ini lazim dilakukan oleh para pendaki untuk merekam apa
saja yang mereka temui selama perjalanan. Catatan itulah yang kemudian
disusun menjadi buku Nyanyian Angin di Himalaya ini.
Dari
catatan yang dibuat tersebut, pembaca dapat ikut merasakan perjuangan
Sieling dalam menaklukan alam. Suhu yang ekstrem, perubahan cuaca yang
mendadak, serta medan yang berat, merupakan pengalaman sehari-hari yang
ditemui untuk mencapai puncak Himalaya.
Namun
hal itu tidak membuat niat ibu dari dua orang anak itu surut.
Sebaliknya, ia menghadapi semua tantangan itu dengan penuh keberanian.
Kadang-kadang, karena terlalu bersemangat, ia tidak menghiraukan
peringatan para pemandunya. Tak pelak, kecelakaan kecil terjadi padanya
yang mengakibatkan cedera ringan.
Perjalan
yang penuh bahaya ini nyaris menyeret Sieling ke lubang kematian (hal.
247). Ia sempat terperosok ke dalam jurang. Hal ini terjadi ketika ia
kembali Cchukhung dari Imja Base Camp.
Pendamping
yang berjalan jauh di depannya tidak melihat hal ini. Usahanya untuk
membawa tubuhnya ke tempat yang lebih tinggi gagal. Sebaliknya ia
terperosok lebih dalam sebelum kemudian pasrah untuk menunggu
pertotolongan.
Untung
saja tim yang mendampinginya segera menyadari kejadian ini. Mereka pun
kembali untuk menyelematkan Sieling. Mereka berhasil menyelamatkan
Sieling kendati tubuhnya dipenuhi luka.
Dari
sini Sieling belajar bahwa rasa kebersamaan dalam tim sangat
diperlukan. Keahlian dan pengetahuan dari sebauh anggota tim memang
penting. Namun semuanya tidak banyak berguna jika kerja sama yang baik
dalam tim tidak ada.
Dalam catatan yang ditulisnya, terlihat Sieling mencoba untuk merekam apa yang ditemuinya. Hal ini
terutama sangat berguna bagi mereka yang gemar mendaki gunung, terutama
mereka yang berencana untuk mengikuti jejak Sieling hingga ke Himalaya.
Namun
sayangnya, buku ini tidak dilengkapi dengank isah lain mengenai
kehidupan masyarakat di wilayah yang ia lewati. Padahal sedikit
kedalaman mengenai hal itu akan membuat buku ini lebih kaya sebagai
sebuah catatan perjalanan. Cerita mengenai adat, kebiasaan, mitos, serta
pengaruh kehidupan politik misalnya, akan membuat perjalanan Sieling
semakin menarik dan bernas.
Catatan
lain mengenai buku ini ialah, gaya penulisan Sieling yang lebih mirip
dengan catatan harian. Jika saja Sieling mengemasnya dengan gaya
penulisan feature ataupun jurnalistik gaya baru (the new journalism), maka tulisannya akan lebih enak untuk dibaca.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berkomentar. Komentar yang mengandung spam akan terhapus secara otomatis. Anda juga bisa menyisipkan kode seperti biasa pada komentar anda.